Ternyata Plat Nomor Mobil Asisten Presdir XL Dipalsukan

JAKARTA-Asisten presdir XL, Hayrianti (37) yang telah tewas dibunuh diketahui bahwa mobilnya yang merupakan mobil honda mobilio telah dibawa kabur oleh pembunuhnya sendiri yaitu AK atau alis AW (38). Di ketahui dari keterangan tersangka bahwa tersangka membawa kabur mobil milik korban usai membunuh korban di Hotel Cipaganti, Garut, Kamis 30 oktober 2014 lalu. Fakta tersebut diperkuat dengan adanya rekaman CCTV milik hotel yang menunjukkan bahwa nomor plat dari mobil tersebut bukanlah nomor plat yang asli.

Menurut keterangan dari polisi berdasarkan pengakuan dari tersangka AK, plat nomor mobil tersebut sengaja di ganti dengan yang palsu berdasarkan perintah dari Hayrianti sendiri dan membuang plat aslinya di daerah Jatinegara. Namun setelah mendalami kembali kasus ini, Komisaris Besar Krishna Murti selaku Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyatakan bahwa terdapat kejanggalan dalam kasus pembunuhan ini. Polisi menaruh curiga terhadap tersangka AK setelah diketahui bahwa mobil honda mobilio dari korban pembunuhan Hayrianti berada di dalam garasi mobil di rumah AK. AK sendiri memberi pengakuan bahwa Hayrianti sendiri lah yang telah memberikan mobilnya tersebut sebagai jaminan hutang kepadanya.

Setelah diselidiki lebih dalam ternyata diketahui bahwa mobil tersebut telah dibayar secara tunai oleh Hayrianti sendiri di showroom di kota Depok. Kecurigaan semakin mendalam saat showroom tersebut menyatakan bahwa surat-surat BPKB mobil tersebut telah diambil pada bulan Februari 2015, sementara Hayrianti sendiri telah dinyatakan hilang sejak bulan November 2014 lalu. Dari temuan tersebutlah polisi menaruh curiga yang dalam kembali kepada tersangka AK.

Dari catatan yang ada, telah diketahui ternyata yang mengambil BPKB tersbut adalah tersangka pembunuhannya sendiri yaitu AK. AK mengambil BPKB tersebut dengan membawa surat kuasa palsu yang ternyata diketahui bahwa tanda tangan Hayrianti yang tertera di situ adalah hasil scanning. Pada akhirnya AK ditahan atas tuduhan pemalsuan dokumen, meski sempat menampik bahwa ia merupakan pembunuh dari Hayrianti namun pada akhirnya AK mengakui perbuatannya itu sendiri.

Evan Tidak Meninggal Pada Saat MOS

BEKASI-Menurut keterangan kepala Polresta Bekasi, Komisaris Besar Daniel Bolly Tifaona menyatakan bahwa Evan Christoper Situmorang yang merupakan siswa dari SMP Flora Bekasi telah meninggal di rumahnya dan bukan merupakan korban dari Masa Orientasi Siswa atau MOS. Berdasarkan dari keterangan empat saksi mata yang dimana mereka merupakan tentangga dari korban sendiri menyatakan bahwa Evan telah meninggal dunia di rumahnya pada tanggal 30 juli kemarin. Menurut saksi mata, ibu Evan berteriak meminta tolong karena anaknya yang mengalami kejang-kejang saat di rumahnya. Begitu para warga datang menolong, diketahui bahwa Evan telah meninggal lewat pemeriksaan sederhana dari detak jantung dan nafasnya. Namun untuk lebih meyakinkan ibu korban maka Evan pun dibawa ke rumah sakit terdekat.

Di rumah sakit Sayang Bunda, Evan ditolak karena alasan tidak adanya peralatan medis yang memadahi serta bahwa rumah sakit tersebut adalah rumah sakit bersalin. Kemudian Evan kembali dibawa ke rumah sakit Citra Harapan Indah, setelah diberi penanganan seperti kejut jantung dan elektrodiagram Evan memang sudah tidak tertolong lagi dan diperkirakan waktu kematiannya adalah 30-40 menit yang lalu, dimana saat itu Evan masih berada di rumahnya.

Evan yang diberitakan meninggal karena Masa Orientasi Siswa di sekolahnya sebenarnya bukan merupakan korban dari kegiatan MOS tersebut. Dikatakan oleh Daniel bahwa untuk menyelediki lebih lanjut pihak kepolisian telah memieriksa keterangan dari 18 orang terdiri dari kepala sekolah, guru, ketua panitia MOS, siswa, mentor, orang tua murid, orang tua dari Evan, dokter puskesmas, dokter di RS Citra Harapan serta tetangga korban . Dari penyelidikan tersebut diketahui bahwa Evan meninggal karena penyakit jantung dan asam urat yang dideritanya.

Evan Christoper Situmorang sendiri setelah menjalani kegiatan MOS di sekolahnya mengalami pembekakkan pada kaki dan kakinya menjadi kebiruan, dua minggu setelahnya Evan pun meninggal karena di diduga mengalami keletihan pada saat kegiatan MOS. Mengenai hal tersebut, pihak sekolah sendiri membantah dugaan tersebut karena MOS sendiri telah berakhir dua meninggal dunia