Empat Kasus Besar Resistensi Antibiotik

Kewaspadaan terhadap resitensi antibiotik harus ditingkatkan dewasa ini. Apalagi minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang masih sangat memprihatinkan. Banyak hal dimana kesalahan penggunaan antibiotik menjadikan banyak potensi kematian. Kesalahan dalam penggunaan memang sangat berbahaya, seharusnya pemerintah atau pihak berwenang memberikan pengetahuan ataupun seminar umum yang menjelaskan bagaimana antibiotik itu sendiri bekerja.

Seorang dokter anak bernama Nurul Hariadi dalam seminarnya dia menjelaskan 4 fakta berbahaya resistensi antibiotik di Jakarta hari Rabu tanggal 5 Agustus mengenai kesalahan yang terjadi di dunia. Yang pertama, kebanyakan atau 70 persen penggunaan antibiotik di Amerika dialokasikan ke bidang peternakan. Riciannya adalah 74 persen diberikan dalam bentuk makanan, sementara 24 persen diberikan dalam bentuk minuman dan 9 persen digunakan bukan kepada binatang. Pada bulan Oktober Tahun 2014 mengalami peningkatan dalam penggunaan antibiotik terhadap peternakan sebesar 16 persen dari tahun 2008 sampai 2012.

Kasus kedua terjadi juga di Amerika karena kasus resistensi antibiotik dengan terjadinya infeksi sebesar 2 juta kasus yang merenggut 23.000 nyawa. Ini merupakan kasus yang mengerikan yang hanya dikarenakan resistensi antibiotik. Negara sebesar Amerika Serikat juga bisa terkena dampaknya bila dilihat seberapa maju negaranya.

Kasus ketiga terjadi di China yaitu sebanyak 162 ribu ton terjadi penggunaan antibiotik di kurun waktu tahun 2013. Hal yang lebih mengerikannya lagi adalah hampir setengahnya dipakai atau dikonsumsi manusia. Jumlah penggunaannya sebesar sekitar 77 ribu ton. Penggunaan yang cukup menakutkan bila di hitung dari jumlah totalnya. /mengingat penggunaannya hampir sama porsinya kepada binatang.

Kasus keempat diperkirakan pada tahun 2025 akan benar-benar menjadi peningkatan kematian akibat resistensi antibiotik. Bisa diperkirakan akan ada satu juta kematian manusia akibat resistensi antibiotik. Hal ini yang haruis menjadi masukan agar di kemudian hari hal ini bisa di cegah tentu saja dengan edukasi lebih lanjut mengenai antibiotik. Apalagi mengingat Indonesia merupakan negara yang dianggap beredukasi lebih rendah dibandingkan para negara maju. Ada baiknya edukasi di lakukan lebih cepat.